Friday, August 12, 2011

PR? Horeeeeee....!

Saya sangat mencintai murid-murid saya.
Sebagian besar dari mereka boleh saja masih belum bisa baca-tulis-hitung, mereka juga boleh saja sering nakal dan ramai dan tidak mau saya suruh diam, bahkan mereka juga sering belum mandi saat datang ke sekolah. Apapun itu, saat mereka tersenyum ceria sambil bernyanyi bersama saya di akhir kelas sebelum pulang sekolah, saya selalu tahu bahwa saya “kalah” lagi. They have won my heart. Again. Everyday. Failproof.
Terlebih lagi hari ini.
Jadi, setiap hari saya mengadakan 2 sesi les untuk anak-anak kelas 5. Jam 15.00-17.00 untuk 6 anak yang sudah bisa baca-tulis-hitung, dan jam 19.00-21.00 untuk 12 anak sisanya yang tingkat kemampuan calistungnya luar biasa heterogen. Ada yang sudah lancar menulis dan hitung perkalian tapi nol besar dalam hal membaca, ada yang menulisnya bak siput (bahkan sebulan yang lalu dia masih belum bisa tulis namanya sendiri) dan belum bisa baca tapi supercepat dalam menangkap pengetahuan matematis, daaaan tidak sedikit pula yang nol besar dalam segala bidang baca-tulis-hitung. Hahaha...
Mereka punya satu kesamaan: mereka sangat suka les. Meskipun nantinya saat les mereka pusing menghadapi soal-soal matematika yang saya sodorkan secara maraton, tapi setiap harinya di sekolah mereka selalu bertanya dengan penuh harap, “Nanti les, Ibu? Nanti les, Ibu? Jam 3, Ibu? Jam 7, Ibu?”
Nah, hari ini saya sudah ada rencana untuk rapat dengan Kepala Desa dan warga desa tentang usulan perayaan 17 Agustus yang saya ajukan. Karena itu, sebelum pulang sekolah, saya bilang pada anak-anak bahwa hari ini tidak ada les. Setelah mendengar hal ini, raut wajah mereka agak kecewa, tapi saya memang tidak punya pilihan. Supaya mereka tetap belajar di rumah (biasanya anak-anak di desa ini tidak pernah belajar sendiri di rumah kalau tidak ada PR), saya pun minta anak-anak datang ke rumah sekitar pukul 13.00 untuk saya beri PR. Di luar dugaan, mereka sontak ramai berseru, “HOREEEEEE....!!”

Saya pun speechless.

Hore? Did they just say “hore”?
Saya mengumumkan bahwa mereka akan dapat PR dan mereka berteriak “hore”?

Saat detik berikutnya senyum mengembang di wajah saya, saya tahu bahwa hari ini mereka telah melelehkan hati saya lebih dari biasanya.
Hati saya mudah leleh pada orang yang telah berbuat baik pada saya.
Dan anak-anak ini telah menolong saya, bahkan tanpa mereka sadari.
Di tengah beban pikiran setiap hari memikirkan metode apalagi yang bisa saya pakai agar mereka cepat bisa mengenal huruf dan angka, hari ini mereka membantu menaikkan rasa percaya diri dan optimisme saya.
Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa bahagianya saya melihat mereka merasa SENANG dan BERSEMANGAT untuk belajar. Meski nantinya entah mereka akan paham atau tidak dengan apa yang saya suruh mereka kerjakan, tapi yang penting senang dulu, yang penting antusias dulu.
Entah mereka bisa mengerjakan atau tidak, bahkan entah mereka mengerjakannya sendiri atau dikerjakan Mama, tapi mereka ingin diberi PR.
PR bukanlah sesuatu yang memberatkan bagi mereka. Homeworks are fun.
Wow.
Saya saja tidak berpikir begitu saat masa-masa SD dulu.

Kalau saya ingat-ingat lagi, selama ini mereka memang antusias menyodorkan buku untuk saya isi dengan soal-soal matematika. Saya memberi mereka soal yang berbeda-beda, selain supaya tidak saling contek, juga supaya tingkat kesulitan soalnya bisa sesuai dengan kemampuan masing-masing individu anak.
PR ini rupanya juga menjadi ajang kompetisi tersendiri di antara mereka. Yang sudah dapat soal-soal perkalian akan menyombongkan diri pada temannya, “Ibu su kasih betung soal kali-kali (Ibu sudah kasih saya soal perkalian).” Yang masih dapat soal penjumlahan pun kadangkala diejek, sehingga dia minta “naik kelas”, minta dikasih soal perkalian juga. Maka saya pun bisa bilang, “Makanya, mari dong (=dorang/kalian) jawab soal tambah-tambah ini deng benar, jang lupa lai cara simpan. Nanti kalau dong su bisa, Ibu kasih soal kali-kali.” Lucunya, kadang bila saya beri mereka 6 soal misalnya, mereka akan bilang, “Ibu, kasih beta 10 soal.”

I love them.

Ya Tuhan, seperti apa rasanya hati saya saat bulan Juni 2012 nanti? Saat saya harus berpisah dengan anak-anak ini...


Monday, August 8, 2011

Ikhlas = Bahagia

Hari ini saya bersyukur sekali.
Hari ini saya bisa mengajar dengan hati ringan, have fun, dan bahagia, setelah selama 2 minggu sebelumnya cukup stres dan merasa terbebani saat berjalan menuju ke sekolah tiap harinya.
What has changed?
Well, I let go.
Saya ikhlas.
Saya tidak lagi menuntut diri sendiri terlalu keras, tidak lagi menuruti kata hati yang perfeksionis.
Kalau memang di kelas saya ada 12 anak yang belum bisa baca tulis (that’s right, 12! Not 5, not 6, but 12 students!), ya mau bagaimana lagi.
Kalaupun memang saat saya menerangkan di depan kelas setiap harinya hanya 6 anak yang bisa memahami saya mengajar Matematika, ya mau bagaimana lagi.
Mereka tidak bisa baca-tulis, bahkan belum hafal urutan angka.
Saya tentu tidak bisa menyulap mereka jadi bisa lancar baca-tulis dalam waktu semalam, atau seminggu sekalipun.
It will take time.
Yang penting sekarang adalah bagaimana saya bisa tekun menuntun mereka belajar baca-tulis dengan telaten setiap les malam hari.
Yang penting sekarang saya sudah siap dengan program mengajar selama satu semester, sudah siap dengan jadwal dan target-target penyampaian materi.
Yang penting sekarang adalah bagaimana saya memastikan bahwa keenam siswa kelas 5 yang sudah bisa baca-tulis-hitung itu mampu memahami materi pelajaran yang saya sampaikan.
Sementara yang 12 anak sisanya... well... *sigh* I’ll try hard to help them catching up, and then we’ll see...

Keputusan saya untuk bersikap begini sebenarnya juga tidak terlepas dari perdebatan dalam diri sendiri.
Mau saya, saat saya menerangkan suatu materi di depan kelas, maka seluruh siswa di kelas tersebut harus mengerti.
Namun, dengan kondisi siswa yang seperti sekarang ini, prinsip tadi justru membebani saya secara mental dan psikologis.
Akibatnya?
Saya tidak enjoy mengajar.
Saya tidak having fun mengajar.
Gawatnya lagi, murid-murid saya bisa merasakan apabila saya sedang bad mood.
Dan celakanya saya bad mood terus sepanjang seminggu kemarin.
Because I was too hard on myself.
Because I did not let go.

Alhamdulillah, today was great.
I was happy.
And I will continue it.
I will be teaching happily.
I will have fun! :D




Saturday, August 6, 2011

Takut Gelap

Dulu saya takut gelap.
Rindam Jaya dan Gunung Bunder menyembuhkan saya.

Saya memang gengsian, tidak mau orang tahu bahwa saya takut gelap. Karena itu, berbagai jurit malam selalu sukses saya lewati dengan cool dan tenang, sejak masa Pramuka SMP, Pramuka SMA, ospek kuliah, maupun saat Caraka Malam di Rindam bulan April lalu. Tanpa ada orang yang tahu bahwa saya sebenarnya takut gelap.

Bagaimanapun, sesungguh-sungguhnya, saya dulu takut gelap. Terutama bila saya sendirian. Bahkan kalaupun saya berada di rumah sendirian, rumah saya sendiri yang sudah saya tinggali sejak kecil, saya tetap takut gelap.

Karena itu, kalau Caraka Malam masih terkesan mudah bagi saya, maka tidak demikian halnya dengan sesi “Survival” di Gunung Bunder, bulan Mei lalu. Saat itu, saya melewati satu malam tidur di hutan secara sebenar-benarnya. Saya dan Arum tidur berdua di dalam “tenda”, literally di tengah pepohonan dan semak-semak yang rapat.

Kami semalaman bergandengan tangan, bukan karena mesra, tapi karena kami cuma punya satu sama lain (cieeeh hahaha). Semalaman, suasananya bisa digambarkan dengan dua kata: GELAP GULITA. Saat kita tidak bisa melihat apa-apa dengan mata kita, maka otomatis telingalah yang mengambil alih, dan indera pendengaran kita pun menajam. Lucunya, saya dan Arum seolah di-setting untuk bergantian tertidur. Saat saya terbangun, saya melirik ke samping dan mendapati Arum sudah tertidur. Demikian pula sebaliknya, saat Arum terbangun, saya yang tertidur. Padahal, justru pada saat-saat terbangun itulah sangat terasa “suasana hutan”nya. Suara gesekan-gesekan daun, suara benda-benda jatuh, suara gerakan-gerakan, dan suara-suara lain yang hanya Tuhan yang tahu apa sumber suaranya.

Ada suatu waktu di mana saya takut sungguhan. Saya merasa ada yang melempari saya dengan kerikil dari arah kanan. Pluk, pluk, pluk, pluk, pluk, tidak kunjung berhenti. Monyet kah, tupai kah, kucing kah, entahlah, sampai sekarang saya tidak tahu dan tidak ingin tahu. Akhirnya saya terpaksa membangunkan Arum, dan kami pun berpelukan hahaha...

Intinya, pengalaman “Survival” itu sangat saya syukuri. Berada di hutan selama 2 malam itu membuat saya terbiasa dengan kegelapan, hingga saya tidak lagi merasa bahwa kegelapan itu mengancam. Saya disadarkan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari absennya cahaya di waktu malam.

Di sini, hidup di Lumasebu, saya sudah tidak takut gelap.

Hari ini adalah pertama kalinya saya memasak sahur sendiri, pertama kalinya dalam hidup saya (yeah I know, I’m such a princess... :p). Pengalaman pertama ini pun langsung dilakukan secara ekstrem. Saya masak sendiri dengan tungku kayu bakar (juga yang pertama kalinya dalam hidup saya), sendirian, dalam gelap, dalam kesunyian, di rumah pendeta pula! Kemudian dilanjutkan dengan makan sahur sendirian dalam gelap, dengan headlamp yang hampir habis chargenya, dan dengan sebuah senter yang juga hampir habis chargenya.

Ada dua hal yang sangat saya syukuri: (1) saya sudah bisa berteman dengan gelap, dan (2) betapa Tuhan sangat melimpahi makhlukNya dengan kenikmatan.

Walau begitu jauh dari kampung halaman, tanpa teman dan keluarga, bahkan tanpa seorang pun teman berpuasa, saya masih dilimpahi begitu banyak kenikmatan. Saya masih bisa makan sepiring penuh nasi. Menunya pun istimewa: Nasi Goreng Kornet (meskipun ternyata kurang asin haha) ditemani segelas susu Dancow cokelat hangat. Saya masih punya “teman” yaitu laptop saya, yang dengan setia memutarkan lagu-lagu milik Opick, Bimbo, dan Raihan, menemani saya memasak. Selama saya makan pun surat Ar-Rahman tak putusnya terlantun indah. Juga, siapa bilang saya tidak pernah dengar adzan di sini? Sebentar lagi, pukul 05.07 WIT, adzan Shubuh akan berkumandang dari laptop saya.

Bahkan, saya yang sudah tidak takut gelap adalah satu kenikmatan, bukan? :)

“Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” (QS. 55 : 13)



Saturday, June 25, 2011

Satu Hari Penuh Cinta

Saya menulis ini pukul 1 dini hari. Mata yang tadinya digelayuti kantuk kini terbuka lebar. Kepala saya penuh, tidak bisa tidak menuangkannya ke dalam tulisan sekarang juga.

Hari ini benar-benar satu hari yang penuh cinta. Pagi-pagi di rumah Ibu Torim ini sudah terjadi kehebohan. Olivia, putri kedua Ibu Torim, sudah merasakan sakit di perutnya, pertanda waktu kelahiran bayi sudah dekat. Semua pun berbagi tugas, sebagian bertugas mengemasi barang-barang yang akan diperlukan saat persalinan, sebagian lain bergegas membawa Via ke rumah sakit terdekat, RS Fatima, yang bisa dicapai dengan berjalan kaki saja.

Olivia masih sangat muda, baru akan genap 22 tahun bulan Oktober nanti. Perawakannya pun sangat mungil. Saking mungilnya, orang tidak akan menyangka usia kandungannya sudah 9 bulan, karena perutnya juga tidak nampak terlalu besar. Suaminya, Veki, juga masih muda, 23 tahun. Penampilannya akan membuat orang mengira ia seorang mahasiswa dan bukannya seorang calon ayah. Bayi ini adalah anak pertama mereka, juga cucu pertama di keluarga Torim.

Saya selalu tersenyum hangat tiap kali melihat keduanya berjalan berdampingan. Rasanya ikut senang melihat mereka yang semuda itu telah menemukan the love of their life dan berjuang bersama untuk hidup bahagia.

Hingga sore hari pukul 16.30 WIT, Olivia tidak kunjung ada kontraksi, padahal ketubannya sudah pecah. Keluarga pun memutuskan mengambil jalan operasi caesar. Olivia pun dipindahkan ke RSUD Saumlaki, dan operasinya dijadwalkan pukul 22.00 malam ini.

Sembari menanti pukul 22.00, kami duduk-duduk (di lantai, hehe) di sekeliling ranjang Olivia di bangsal rumah sakit. Satu per satu keluarga dan kerabat datang. Keluarga dari pihak Ibu Torim, dari pihak Bapak Torim, serta dari pihak keluarga Veki. Bahkan ada pula seorang sahabat keluarga yang ternyata adalah orang Toraja. Ia tidak memiliki hubungan famili apa-apa dengan keluarga Torim, namun sudah dianggap kerabat sendiri.

Saya terpesona melihat kemajemukan ini. Berbagai agama—Protestan, Katolik, Islam—dan berbagai suku bangsa—Tanimbar, Ambon, Toraja, Jawa—berbaur menjadi satu demi rasa sayang kami pada Olivia. Saya terpesona pada jalan takdir yang membawa saya ke sini, di RSU Saumlaki. Yang saya tidak sangka-sangka, malam ini saya belum akan berhenti terpesona.

Pemandangan penuh cinta kembali dihamparkan di hadapan saya saat operasi mulai berlangsung. Veki tidak pernah jauh dari pintu ruang operasi, di mana kita bisa melihat dari luar bayang-bayang dokter yang berpakaian hijau sedang menjalankan tugasnya.

Veki, berkaus hijau, berdiri bersandar pada dinding dengan kepala tertunduk. Kedua belah tangan tersembunyi dalam saku, sesekali ia mengangkat kepala melayangkan pandangan ke arah pintu ruang operasi. Sesekali ia duduk. Sesekali ia beranjak keluar ruangan untuk merokok, tak lama kemudian kembali lagi ke dinding tempatnya bersandar semula. Sayup-sayup terdengar suara kardiogram dari dalam ruang operasi, berdenyut teratur, tut tut tut tut...

Sekalipun seandainya saat itu saya membawa kamera, saya tidak akan tega memotret, takut merusak suasana syahdu yang tercipta. Saya hanya akan mematrinya baik-baik di dalam lembaran memori saya, semoga ia tinggal sebagai long-term memory saya.
Mungkin saya terlalu terpaku pada usia muda mereka, sehingga situasi ini bisa begitu menyentuh hati saya. Mungkin juga segalanya nampak begitu lembut dan indah karena saya tahu riwayat hidup mereka berdua. Atau mungkin juga saya terpesona hanya karena saya sendiri sudah menginjak usia menikah, jadinya mupeng, hahaha...

Siang tadi, saya sempat berpikir enaknya mau memberikan apa ya kepada keluarga Torim sebagai rasa terima kasih karena telah menerima saya di rumah. Ternyata, jawabannya mungkin tidak harus menunjukkan rasa terima kasih dengan memberikan barang, tapi dengan menjadi bagian dari keluarga ini.

Tidak ada dalam job desc saya sebagai Pengajar Muda yang menyebutkan bahwa saya akan berada di rumah sakit hingga dini hari, menunggui persalinan seorang Olivia yang baru saya kenal sehari sebelumnya. Dan saya sangat bersyukur bisa berada di sini. Melarut. That’s what I’m doing. Sungguh-sungguh melarut. Bukan hanya satu keluarga baru yang saya dapatkan dari Indonesia Mengajar ini, tapi saat ini saja sudah dua—Lasuatbebun dan Torim. Tentu, tidak tertutup kemungkinan akan bertambah lagi.


Thursday, June 23, 2011

Pembagian Raport dan Tuan Tanah

09.12 WIT | 07.12 WIB

Hari ini hari pembagian raport bagi kelas 1 s/d 5 dan perpisahan kelas 6 SD Lumasebu. Sudah diumumkan ke seluruh kampung bahwa acara hari ini dijadwalkan akan mulai pukul 08.30 WIT, terutama yang perlu hadir adalah para orang tua murid yang akan mengambil laporan pendidikan a.k.a. raport anaknya. Namun hingga jam segini belum ada satu pun orang tua murid yang datang. Hanya beberapa tamu undangan yang sudah mengisi aula, seperti bapak ketua Komite Sekolah dan bapak mantan kepala SD Lumasebu.

Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan—padahal baru 2 hari di sini—tapi apa yang saya lihat hari ini seolah mengindikasikan kurangnya “rasa memiliki” orang tua (baca: warga desa) terhadap SD Lumasebu ini. Diundang ke acara perpisahan putra-putri mereka yang lulus SD, plus pembagian raport untuk siswa kelas 1 – 5, seolah bukan merupakan hal penting bagi mereka. Padahal mereka pun tidak ada kegiatan yang dilakukan di rumah.

Saya pun merumuskan sebuah jargon: “Community involvement in education”. Yak, itu dia. Keterlibatan masyarakat Lumasebu dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka harus lebih ditumbuhkan lagi.

Saya jadi teringat saat Direct Assessment di Surabaya. Topik ‘community involvement’ ini jugalah yang menjadi perdebatan hangat dengan teman-teman kelompok saat itu—satu diantaranya adalah Jaka . Community comprises of parents, and parents are one of the key factor in supporting children’s education. Saya ingat, Jaka saat itu bilang, bahkan tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi pun mendapat dukungan penuh dari orang tua mereka untuk terus, terus, dan terus menuntut ilmu.

Kini, pertanyaannya adalah: pendekatan macam apa yang bisa digunakan untuk menumbuhkan dukungan penuh orang tua atas pendidikan anaknya, di desa kecil macam Lumasebu ini?

Yang sudah terpikirkan oleh saya sebagai tugas pertama adalah mengambil hati masyarakat desa sebesar-besarnya. Saya adalah penganut aliran personal approach dan one-on-one approach. Maka, sepertinya yang bertengger di puncak To-Do List saya adalah bertandang dan mengobrol ke rumah-rumah warga desa di sore hari. Saya perlu tahu, siswa A siapa orang tuanya dan rumahnya di mana. Tidak perlu ada “ceramah” dulu. Yang penting mereka mengenal saya lebih dekat.

Jangan lupa juga untuk membuat sekolah menjadi suatu konsep yang menarik, bukan hanya bagi anak-anak tapi juga bagi orang tuanya. Tampilkan students’ performance di tiap acara sekolah, ajak anak-anak membuat prakarya, pokoknya segala hal yang bisa terlihat oleh orang tua yang mengamati dari luar pagar sekolah. Tangible things. Juga, saat ada acara sekolah, saya mau keliling kampung dengan ceria pada sore hari sebelumnya, mengingatkan para orang tua murid untuk datang esok pagi pukul sekian-sekian. Hehe.

Any more ideas? :)


20.00 WIT | 18.00 WIB

Done. Akhirnya saya sudah sowan ke rumah Tuan Tanah dan mengikuti ritual adat bagi pendatang di desa ini.

Ikut serta dalam ‘upacara’ ini adalah Bapak Tuan Tanah, istrinya, seorang putri/menantunya, seorang putra/menantunya, Ibu Torim, Ibu Loupatty, Bapak & Ibu Lasuatbebun, dan saya sendiri.

Tidak seperti perkiraan sebelumnya, saya tidak perlu (berpura-pura) minum sopi dalam ritual adat ini. Bahkan saya ditawari pun tidak. Bahkan ritual mengedarkan segelas sopi untuk disesap tiap-tiap orang di ruangan itu pun tidak ada.
Ritualnya hanyalah berdoa dalam bahasa daerah, dipimpin oleh Bapak Tuan Tanah, sementara semua orang lain menundukkan kepala. Setelah selesai berdoa, Tuan Tanah mengambil kapur dan sirih, meletakkannya di lantai dan menginjaknya. Berikutnya, Tuan Tanah menuang sedikit sopi ke dalam gelas, lalu menumpahkannya ke atas kapur dan sirih di lantai tadi. Tidak ada sepatah kata ataupun bahasa tubuh yang bertujuan meminta saya minum sopi atau mengangsurkan segelas sopi pada saya, maupun orang-orang lain. Sudah. Hanya begitu saja dan ritual adat menyambut pendatang ini pun selesai. :)


Wednesday, June 22, 2011

Hari Pertama di Lumasebu

06.17 WIT | 04.17 WIB

Yak. Malam pertama di rumah baru sudah terlewati. I’ve survived my first 12 hours in Lumasebu.

Tentu, meski baru 12 jam, namun sudah banyak hal baru yang saya lakukan. Untuk pertama kalinya saya mandi dengan memandangi langit biru. Dan hujan pula, haha. Saat hujan mulai turun, Ibu Torim―kepala sekolah SD Kr. Lumasebu―heboh memanggil saya yang sudah di kamar mandi, katanya, “Wah hujan, hujan! Nanti basah kamu...!” Dengan lugunya saya pun menjawab, “Tidak apa-apa, Bu, saya mandi juga basah...” Hehe.

Tenang, kamar mandinya berdinding kok. Hanya saja tidak beratap. Sebenarnya, kalau mau cari untung, panjat saja tebing di sebelah rumah Bu Torim, nah dari situ bisa intip kitorang (kita orang) mandi, hehe. Karena itu, sekarang saya sudah mulai menjajaki skill baru, yakni mandi memakai sarung. Saya tidak mau memakai sarung itu menjadi kemben, melainkan saya usahakan menutupi hingga bawah dagu. Ada tekniknya lhoo... Kapan kita menggantikan handuk dengan sarung untuk menutupi badan, bagaimana cara satu tangan memegangi sarung sementara tangan lain mengambil air mandi, dan terakhir, bagaimana cara agar badan tetap tertutupi sarung saat melepas dan memakai baju.


Rumah host family saya, keluarga Lasuatbebun, memang tidak memiliki WC, boro-boro kamar mandi. Kalau mau mandi atau buang air kecil, saya biasa menyeberang jalan ke rumah Bu Torim. Nah, untuk pup, Bu Torim juga tidak punya WC. Jadilah pagi-pagi uthuk-uthuk saya pergi ke toilet SD saya, nah di sana ada WC.

Keluarga angkat saya terdiri dari kepala keluarga, Bapak Maisala Lasuatbebun―sering disapa Pa Mais, dengan istrinya Ibu Feronika Lasuatbebun―Mama Roni, dan 2 anak mereka, Mathias dan Justina Bunga. Mathias baru saja lulus dari SMA di Waturu, sementara Bunga duduk di kelas 5 SD Lumasebu. Mereka hidup dari hasil bertani dan menangkap ikan. Di musim seperti sekarang, Angin Timur bertiup kencang, sehingga tidak memungkinkan nelayan untuk pergi melaut. Nanti, sekitar bulan September-April barulah Angin Timur mereda dan mereka bisa berlayar mencari ikan.


10.04 WIT | 08.04 WIB

Sekarang saya sedang duduk di ruang guru, sambil bersusah payah menahan airmata agar tak menetes.

Saya berjanji, setelah ini tidak akan lagi menonton video berisi slide foto-foto Pengajar Muda semasa kegiatan ekskul Hubla, yang diiringi lagu “Ku Bahagia”-nya Sherina, di tempat umum. Mustinya video itu dilabeli precaution: WARNING! Jangan menonton video ini di tempat umum. Risiko menangis tanggung sendiri.

Saya sangat merindukan teman-teman PM. Each and every single one of them.

Saat kita berada di “medan perang” seperti ini—memutar otak sendirian, beramah tamah sendirian, merasa asing sendirian, beradaptasi sendirian—saat itulah terasa betapa kehadiran teman-teman sungguh tak ternilai harganya. That’s what you call priceless.

Oh Gosh...
I want a cellphone coverage. Now.
I want to call my friends. And cry to them.
Now.
I miss them so badly.

Di saat inilah saya teringat kata-kata indah Shally, “...maka puncaknya kerinduan adalah ketika kita saling mendoakan.”

Ya Allah, lindungilah teman-teman saya, yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini, berjuang.
Mohon kuatkanlah iman mereka, serta jagalah kesehatan, kebahagiaan, dan kelapangan hati mereka.
Amin.

(Sudah. Saya sudah menangis. Dari tadi. Menetes tanpa suara. Semoga guru-guru lain tidak memperhatikan... :p)


14.40 WIT | 12.40 WIB

Oke. Setelah mellowmood mode di ruang guru tadi, yang terjadi siang ini justru SERU!

Sekitar jam 13.30 sesudah sholat Dhuhur, saya yang merasa bosan akhirnya mengajak Bunga menemani saya jalan-jalan keliling kampung. Saya mau pigi lihat pantai, lihat gereja, lihat sungai.

Lucunya, di sepanjang jalan tiap kali saya temui anak-anak, mereka akan otomatis ikut jalan di belakang saya. I ended up walking with this huge crowd of kids following me. Walhasil begitu sampai di depan gereja, saya sudah punya buntut berupa 30 anak-anak yang penuh semangat minta difoto. Haha.

Mereka sangat sangat senang difoto dengan kamera saku saya. Untungnya, kamera ini juga punya layar yang luas, sehingga bisa puas melihat hasil jepretan (saya sangat bersyukur dulu akhirnya memutuskan ikut ngredit camdig ini, hehe thanks Surahman!). Jangankan anak-anak, orang dewasa pun excited ingin difoto. Bapak-bapak yang sedang mengerjakan pembangunan Pastori—rumah dinas pendeta—di sebelah gereja pun memanggil saya, minta difoto.

Puas ronda-ronda (keliling-keliling) dan foto-foto, saya pun kembali ke rumah. Di sinilah saya menyesal tidak membawa serta buku-buku cerita anak ataupun permainan anak. Kargo berisi buku-buku yang dikirim dari Jakarta belum sampai di tangan saya. Setelah main tepuk-tepuk dan nyanyi-nyanyi beberapa saat, saya pun mati gaya. Anak-anak saya biarkan main gici-gici (alias engklek) dan main lompat karet, sementara saya menulis jurnal ini. Lucunya, kadang-kadang anak-anak ini berhenti main hanya untuk berkerumun di sekeliling saya dan duduk diam memandangi saya menulis. Hehe...

Tuesday, June 21, 2011

4 Jam Menuju Rumah Baruku

Saya sudah duduk di atas bus, baris kedua di belakang sopir. Di sebelah kiri saya terhampar barang-barang bawaan para penumpang lain-―-karung goni, kardus, tas plastik; sementara di sebelah kanan saya duduklah seorang bapak setengah baya. Kami pun ngobrol. Pak Muis ini, beserta kedua temannya yang duduk di depan kami, adalah pedagang. Pak Muis berasal dari Kendari, sudah hampir 2 tahun tinggal di Saumlaki, punya kios kecil di terminal, dan hari ini mencoba pergi ke Kilmasa-―-desa tetangga Lumasebu--―untuk menilai prospek membuka kios baru di Kilmasa.

Terus terang, saya takjub mendengarnya. Selama ini saya selalu tinggal di kota, di mana konsep hidup yang banyak dipegang masyarakat adalah urbanisasi; merantau ke kota besar dengan harapan mendapat penghidupan yang lebih layak daripada di desa.

Lah, yang dilakukan Pak Muis justru sebaliknya. Yang pertama, dari Kendari ke Saumlaki. Itu saja saya sudah tidak paham. Kenapa harus Saumlaki? Jika memang ingin mencari daerah yang lebih rural daripada Kendari, kenapa harus sejauh itu ke Maluku? Bahkan setelah cukup mapan di Saumlaki, eeeeh, lagi-lagi berpikir untuk “ekspansi bisnis” ke daerah yang makin rural lagi: Kilmasa, desa nelayan 4 jam jauhnya dari Saumlaki.

Sayangnya, kami tidak sempat ngobrol banyak, situasi dalam bus tidak kondusif untuk ngobrol. Bagaimana bisa kondusif kalau ngomong saja harus berteriak untuk mengalahkan suara VCD karaoke yang disetel keras-keras oleh si sopir bus. Jangan tanya sabaraha kencengnya. Ya ampun, sueeeer deh, sampai-sampai saya he-ri (heboh sendiri) sobek-sobek kertas hingga kecil untuk sumpel telinga, dan kemudian ditutup pakai earphone. Jika tidak begitu, gendang telinga saya sakit kena dentuman-dentuman bass lagu-lagu ini. No exaggeration here.

Hmmm, bukan PM namanya jika tidak bisa having fun di segala situasi. Daripada bengong, saya pun asyik menonton layar TV yang menampilkan lirik lagu karaoke yang sedang diputar. Selain mengamati gaya si penyanyi yang bak Sylvester Stallone, saya juga otomatis membaca lirik lagunya. Waaaah kebetulan, bisa belajar bahasa dan dialek lokal nih!

Orang Maluku suka menyingkat-nyingkat kata. Contoh: Jang lupa ale su pung cinta deng beta (jangan lupa engkau sudah punya cinta dengan diriku). Hehehe. Oh! Dan jangan sampai lupakan salah satu istilah lokal yang harus diketahui semua pendatang di MTB: “seng”, yang artinya “tidak”. Ada juga “dong”, singkatan dari “dorang” yang artinya---insya Allah--―bisa “mereka”, bisa “kalian”.

Setelah khatam menonton VCD karaoke, saya jadi bisa merangkai satu-dua kalimat yang akan saya praktikkan: “Jang kelas 6, Bu... Nanti samua seng mangarti deng beta pung dialek. Bisa-bisa dong sulit menangkap pelajaran, padahal mau ujian akhir to...” Hahaha merancang kalimat ngeles... :p

Perjalanan makin seru dengan munculnya kabar burung dari Pak Nuk
―salah satu teman Pak Muis―bahwa akan dibangun BTS Telkomsel di daerah perbatasan Kilmasa-Lumasebu. Katanya, seluruh perlengkapan sudah siap, tinggal dirangkai di tempat dan berdirilah itu menara. Estimasi waktu: 2 minggu, atau selambatnya 1 bulan dari sekarang. WAOW! Yahuuuuuuuu!! :D hehehe meskipun masih kabar burung, namun tentu hati ini spontan bersorak girang. Ya Allah, mohon jadikanlah kabar burung ini kenyataan...

Topik berikutnya adalah menghina-dina life vest oranye ngejreng saya yang memang diletakkan di hadapan Pak Nuk. Para bapak ini tertawa, katanya kalau saja kita sedang di atas kapal laut, kemudian ada yang bawa pelampung, itu wajar. Lah ini? Naik bus ngapain bawa pelampung??? :D huahahahaha... The silver lining is, Pak Nuk kemudian dengan serta-merta mengumumkan bahwa dia punya perahu motor, dan menawarkan tumpangan pada saya jika ingin ke Larat (mengunjungi Matilda, mungkin) nanti setelah tiupan Angin Timur mereda. Yay! :D

Pak Ang, anggota terakhir dari 3 serangkai bapak-bapak pedagang ini, tak mau kalah dan ikut menceritakan tentang dirinya. Ternyata Pak Ang ini punya semacam kos-kosan di Saumlaki. Apabila kami bertujuh, Tim MTB “Jodoh Bangetz”, hendak berkumpul di Saumlaki dan butuh tempat menginap, bisa coba ke tempat Pak Ang. Waaahh, tentu saya senang dapat banyak kenalan baru begini! :D Saya jadi berpikir, kali berikutnya kami berkumpul di Saumlaki, sepertinya kami tidak bisa lagi “selfish” seperti kemarin, yakni lebih prefer tidur di penginapan daripada bersosialisasi. We would have to mingle and visit people, now that we have so many acquintances in the town.

Begitulah...

Semuanya dalam 4 jam perjalanan ini patut disyukuri. Berkenalan dengan (calon) pedagang di desa tetangga, pemilik perahu motor, dan pemilik kos-kosan; kemudian belajar dialek lokal lewat VCD karaoke; hingga mendengar kabar burung rencana pembangunan BTS. Itu pun belum ditambah pemandangan sepanjang perjalanan yang alamak aduhainya, dengan laut biru berkilauan di sebelah kanan dan hijaunya hutan pegunungan di sebelah kiri. Saya pun turun dari bus dengan wajah dan hati berseri-seri, siap memulai lembaran baru dengan gembira.

Everything started great. Alhamdulillah.

Ya Allah, please let this great beginning continue on...

 

Blog Template by YummyLolly.com